Dunia Internasional Apresiasi Upaya Indonesia Kelola Limbah Berbahaya


17 November 2009 merupakan hari penting di Kota Basel  karena pada hari itu diperingati 20 tahun berlakunya Basel Convention on the Control of Transboundary Movement of Hazardous Wastes and their Disposal (Konvensi Basel). Menteri Negara Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Gusti Muhammad Hatta, yang juga merupakan Presiden Negara Pihak (COP) Konvensi Basel ke-9 telah menjadi tamu kehormatan dan panelis pada peringatan  tersebut.
Guna memperingati konvensi tersebut, telah diluncurkan Basel Waste Solution Circle, sebuah inisiatif global perlindungan kesehatan manusia dan lingkungan hidup dari dampak merugikan limbah berbahaya. Empat negara yang menjadi model penanganan limbah yg tercantum dalam Basel Waste Solutions Circle, telah memaparkan proyek-proyeknya yang dianggap inovatif antara lain Indonesia, Kenya, Kolombia dan Swiss.

Sebagai bukti kontribusi nyata Indonesia terkait kebijakan penanganan limbah telah dipaparkan sebuah program khusus penanganan limbah yang disebut PROPER yaitu sebuah program penilaian peringkat kinerja bagi perusahaan-perusahaan besar yg beroperasi di Indonesia. Dengan memberi peringkat terhadap kepatuhan (compliance) perusahaan-perusahaan dalam penanganan limbah berbahaya terbukti telah meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan perusahaan dan sekaligus mendorong upaya penerapan prinsip daur ulang 3R (reuse, recycle and recovery) dalam pengelolaan limbah.
Program PROPER ini telah diakui dan diapresiasi masyarakat internasional karena telah mendorong perusahaan menjadi sadar lingkungan.

Dalam kesempatan Peringatan Konvensi Basel, Menteri Negara Lingkungan Hidup sebagai Presiden Konvensi Basel telah menyerukan agar negara pihak Konvensi Basel melaksanakan komitmen yang tertuang dalam Konvensi tersebut untuk memastikan agar limbah dikelola secara ramah lingkungan, mendorong penerapan prinsip 3R serta mengurangi pergerakan lintas batas limbah berbahaya. Ditekankan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan, secara geografis rawan terhadap penyelundupan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun).
Menteri Negara Lingkungan Hidup menambahkan bahwa Indonesia mempunyai komitmen yg tinggi terhadap Konvensi Basel sejak adopsi konvensi 1989, termasuk sebagai tuan rumah bagi Basel Convention Regional Centre (BCRC) South East Asia dan Conference of the Parties (COP) ke-9 di Bali tahun 2008. Indonesia juga akan menjadi tuan rumah untuk Pertemuan pertama Extraordinary COP Konvensi Basel, Stockholm dan Rotterdam pada bulan Februari 2010 di Bali, yang akan diselenggarakan bersamaan dengan Pertemuan Sesi Khusus Forum Global Menteri Lingkungan UNEP.

Sebagai bentuk apresiasi atas upaya Indonesia, pada kesempatan tersebut Executive Secretary Konvensi Basel, Mrs. Katharina Kummer, telah menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Menteri Negera Lingkungan Hidup Prof. Dr. Gusti Muhammad Hatta.

OzePlanet

Sumber: Di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: